Di antara sekian banyak produk DJI, DJI Avata punya tempat tersendiri. Diluncurkan pada 2022, drone ini menyasar segmen fpv/cinewhoop dengan pendekatan yang cukup berbeda dari kompetitor — bahkan dari produk DJI lainnya.
Spesifikasi dan Fitur Utama DJI Avata
Dari sisi hardware, DJI Avata membawa sensor kamera 1/1.7 inch beresolusi 48 MP f/2.8 yang mampu merekam video hingga 4K/60fps. Berat total drone 410g dengan flight time 18 menit — angka yang standar untuk kelasnya. Jangkauan transmisi video mencapai 10 km. Beberapa fitur unggulan termasuk Built-in propeller guard, DJI Goggles 2, motion controller, 155° ultra-wide FOV, EIS. Harga retail di kisaran $579 (drone only).
Kelebihan DJI Avata
Kemampuan video 4K/60fps memberikan resolusi dan detail yang lebih dari cukup untuk kebutuhan profesional. Dengan codec yang tepat, footage-nya siap untuk post-production tanpa banyak kompromi.
Kekurangan yang Perlu Dipertimbangkan
Flight time 18 menit terasa cukup pendek. Kamu perlu bawa baterai cadangan yang cukup untuk sesi terbang yang produktif.
Cocok untuk Siapa?
DJI Avata cocok untuk kamu yang mau menghasilkan footage sinematik yang dinamis — fly-through building, chase shot, atau reveal shot yang dramatis. Di industri wedding, real estate, dan pariwisata, footage FPV semakin diminati karena memberikan perspektif yang impossible dengan drone konvensional.
Di Surabaya, sudah mulai banyak pilot FPV yang menawarkan jasa khusus ini. Tarifnya biasanya premium karena skill yang dibutuhkan juga lebih tinggi. Kalau kamu serius mau berkarir di FPV, pastikan kamu juga punya sertifikasi remote pilot dan asuransi yang memadai.
Satu hal yang perlu diingat: terbang FPV itu butuh latihan intensif. Bahkan dengan mode stabilisasi yang ditawarkan DJI Avata, kamu tetap perlu jam terbang yang cukup sebelum berani ambil proyek klien. Banyak pilot FPV yang mulai latihan di simulator dulu — seperti DJI Virtual Flight, Liftoff, atau Velocidrone — sebelum terbang dengan drone asli. Simulator ini sangat membantu membangun muscle memory tanpa risiko merusak drone.
Dari sisi regulasi, penerbangan FPV di Indonesia tetap tunduk pada PM 37/2020. Perlu diperhatikan juga bahwa terbang FPV di indoor — misalnya di dalam gedung atau warehouse — punya risiko tersendiri dan beberapa venue mungkin memerlukan izin khusus dari pengelola. Selalu komunikasikan rencana flight kamu dengan pihak terkait sebelum eksekusi.
Verdict: Layak Beli atau Skip?
Cinewhoop ala DJI. Propeller guard built-in bikin aman untuk indoor flying. Motion controller-nya intuitif banget — gerakkan tangan, drone ikut. Ini cara DJI bikin FPV nggak intimidating lagi.
Drone ini paling cocok untuk content creator yang mau footage FPV dinamis tapi aman. Kalau profil kamu sesuai dengan deskripsi itu, DJI Avata bisa jadi investasi yang sangat tepat.
Tips Mengoptimalkan DJI Avata di Lapangan
Kalau menggunakan DJI Avata untuk foto real estate atau properti, terbang di ketinggian 30-50 meter untuk establishing shot dan 10-20 meter untuk detail shot. Gunakan mode panorama kalau tersedia untuk menangkap konteks lingkungan sekitar properti.
Saat menerbangkan DJI Avata di dekat laut atau danau, waspadai interferensi kompas dari mineral di pasir atau air. Lakukan calibration kompas di lokasi sebelum terbang. Dan tentu saja, hindari terbang terlalu rendah di atas air — drone dan air itu bukan teman baik.
Untuk mendapatkan hasil foto dan video terbaik dari DJI Avata, terbang di golden hour — sekitar 30 menit sebelum matahari terbit atau sebelum terbenam. Cahaya di jam-jam ini memberikan warna yang hangat dan shadow yang dramatis. Kalau sensor kameranya mendukung RAW, selalu shoot RAW supaya punya fleksibilitas editing yang lebih luas.
Angin adalah musuh terbesar pilot drone. Sebelum terbang dengan DJI Avata, cek perkiraan cuaca dan kecepatan angin di lokasi. Aplikasi seperti UAV Forecast atau Windy sangat membantu untuk perencanaan flight. Aturan umum: kalau angin di ground level sudah terasa kencang, di ketinggian 100 meter bisa jauh lebih kencang lagi.
Aksesori yang Direkomendasikan
Kalau kamu serius pakai DJI Avata untuk kerja, investasi di tablet yang bagus untuk monitor juga worth it. iPad Mini jadi favorit banyak pilot karena ukurannya pas — nggak terlalu besar tapi layarnya cukup terang dan responsif untuk preflight planning dan monitoring.
Micro SD card juga penting — gunakan yang minimal V30/U3 untuk recording 4K yang lancar. SanDisk Extreme Pro atau Samsung EVO Plus biasanya jadi pilihan aman. Kapasitas minimal 64GB, idealnya 128GB supaya nggak perlu sering ganti di lapangan.
Apa Kata Komunitas Pilot Drone?
Beberapa pilot profesional di Batam yang saya kenal menggunakan DJI Avata sebagai workhorse harian mereka. Salah satu hal yang mereka apresiasi adalah reliability — drone DJI memang jarang bermasalah kalau di-maintain dengan baik. Firmware update rutin dan kalibrasi berkala jadi kunci.
Satu insight menarik dari pilot-pilot berpengalaman di Surabaya: jangan terlalu tergoda untuk selalu upgrade ke drone terbaru. DJI Avata mungkin bukan yang paling baru, tapi kalau kemampuannya masih sesuai kebutuhan kamu, investasi di skill dan sertifikasi jauh lebih berharga daripada beli drone baru setiap tahun.
Regulasi dan Sertifikasi untuk Mengoperasikan DJI Avata
Sebelum menerbangkan DJI Avata — atau drone apapun — untuk keperluan komersial di Indonesia, pastikan kamu sudah memahami dan mematuhi regulasi yang berlaku. PM 37/2020 mengatur tentang pengoperasian drone di ruang udara Indonesia, termasuk batasan ketinggian, zona terbang, dan persyaratan registrasi.
Untuk operasi komersial, sertifikasi remote pilot adalah syarat mutlak. Proses mendapatkan sertifikasi melibatkan pelatihan pilot drone di lembaga yang terakreditasi oleh Ditjen Hubud, diikuti dengan ujian teori dan praktik. Materi pelatihannya mencakup regulasi penerbangan, aerodinamika, meteorologi, navigasi, dan prosedur keselamatan.
Investasi dalam sertifikasi bukan hanya soal legalitas. Klien profesional — terutama di sektor enterprise — akan selalu memilih pilot bersertifikasi. Dan dengan drone se-capable DJI Avata, sayang banget kalau potensinya nggak dimaksimalkan karena keterbatasan sertifikasi dan kompetensi.
No Comments
Leave a comment Cancel